Cosplayer Sexy Lola Zieta Mengaku Panseksual, Apa Bedanya Dengan Biseksual ?

3 min read

Lola Zieta

Berita For4D – Beberapa waktu lalu, istilah “panseksual” ramai diperbincangkan di dunia maya. Salah satu pemicu perbincangan tersebut adalah pengakuan cosplayer Lola Zieta yang menyebut diri sebagai panseksual. Saat itu, ia mengaku tertarik dengan laki-laki maupun perempuan. Lalu, apa sebetulnya perbedaannya dengan biseksual? Psikolog klinis Meity Arianty, STP., M.Psi menjelaskan, secara umum panseksual merupakan ketertarikan terhadap seseorang terlepas dari jenis kelamin, gender maupun orientasi seksual. Panseksual, menurut dia, lebih luas daripada biseksual yang memiliki ketertarikan terhadap dua jenis kelamin berbeda.

Dalam konteks ini, panseksual cenderung lebih rumit dideskripsikan. Orang-orang yang mengklaim dirinya panseksual pun kerap menyebutkan mereka “buta gender”. Beberapa pesohor yang secara terbuka menyatakan diri panseksual di antaranya musisi Janelle Monae, Miley Cyrus, aktris Bella Thorne, hingga komedian Joe Lycett.

“Panseksual tidak sebatas pada jenis kelamin. Ketertarikannya bukan hanya ke laki-laki, perempuan,” kata Meity beberapa waktu lalu. Karena definisi yang lebih luas tersebut, terkadang seorang panseksual dipandang sebagai seseorang yang memiliki orientasi seksual “normal”, ketika menunjukkan ketertarikannya terhadap lawan jenis atau justru berkencan dengan lawan jenis. Demi membuatnya lebih sederhana, beberapa panseksual memang lebih memilih menyebut diri biseksual

Pengguna Twitter dengan akun @RevanAthame, misalnya, seperti dikutip dari laman Bustle, mengaku dirinya seringkali lebih memilih menggunakan istilah biseksual karena dianggap lebih inklusif. Selain itu, pilihannya juga sekaligus menunjukkan bahwa biseksualitas tidak meniadakan orang-orang berdasarkan jenis kelaminnya, sebab dirinya adalah seorang transgenderĀ  Hal senada diungkapkan oleh seorang panseksual bernama HB kepada Teen Vogue. Sejak kecil, HB menyukai perempuan dan laki-laki serta mengidentifikasi diri sebagai biseksual. Namun seiring berjalannya waktu dan ia mengenal istilah panseksual, HB merasa istilah itu menggambarkan ketertarikan seksualnya secara lebih akurat.

BACA JUGA : Pembunuhan Misterius Kakek Di Bogor Jawa Barat Tubuh Penuh Luka Senjata Tajam

“Definisi paling tepat untuk mendeskripsikan ketertarikan seksualku adalah tidak berdasarkan kepemilikan gender atau ekspresi gender.”

“Aku tertarik pada laki-laki maupun perempuan sama seperti orang-orang non-biner tidak mengidentifikasi keduanya.”

“Aku tertarik pada tipe kepribadian dan fisik tertentu, sama seperti orang-orang,” kata HB. Panseksual sebetulnya sudah ada sejak dulu. Namun, kemunculan tokoh-tokoh yang secara terbuka mengatakan pada publik bahwa mereka panseksual membuat orang-orang dengan ketertarikan seksual sama juga lebih memahami atau lebih terbuka dengan kondisinya.

“Hanya saja belum berani go public, seperti homoseksual atau transgender. Booming setelah Miley Cyrus dan lainnya mengungkapkan ke publik,” kata Meity. Meski begitu, Meity meyakini mereka yang mengidentifikasi diri sebagai panseksual cepat atau lambat akan menentukan jati dirinya. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti remaja yang labil, sebab terlepas dari dorongan seksual, mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya mereka sukai atau inginkan.

Sehingga, tak menutup kemungkinan mereka akan berada pada situasi kebingungan yang panjang. Meity juga berharap masyarakat tak serta merta menjadikan fenomena ini menjadi “mainan baru” atau tren. Apalagi jika yang mereka lihat sebagai panutan adalah tokoh-tokoh idolanya.

Sebab, ia melihat ada kecenderungan di masyarakat untuk membenarkan sesuatu sesuai keyakinan dan persepsi yang diinginkannya, seperti yang salah dibenarkan atau sebaliknya.

“Kita sudah punya dasar agama dan moral. Itu bisa membantu manusia meletakkan dasar pemikiran sehingga tidak mengalami kebingungan atas dirinya sebagai manusia,” kata Meity. Jika kamu merasa memiliki kegelisahan tentang orientasi seksual yang ingin ditanyakan atau didiskusikan, carilah pihak yang tepat. Menemukan komunitas yang suportif bisa sangat membantu, meskipun hal itu terkadang juga tak mudah. Di samping itu kamu juga bisa datang kepada pihak-pihak seperti aktivis gender, terapis atau psikolog. Termasuk jika kamu memerlukan bantuan untuk mengidentifikasi orientasi seksual yang sebenarnya. “Bisa ke psikolog atau psikiater,” ucap Meity.

You May Also Like

More From Author

1 Comment

Add yours

+ Leave a Comment